Archive for Artikel IT
Masa Depan Ponsel Kamera Suram?July 18, 2002 at 00:00 · Filed under Artikel IT

Ingin mengabadikan momen indah saat sedang tak membawa kamera? Tidak masalah, jika anda memiliki sebuah ponsel kamera semacam Nokia 7650 atau Sony Ericsson T68. Cukup bidik obyek yang anda inginkan, hasilnya bisa dikirim ke ponsel lain atau ke sebuah e-mail atau disimpan dalam memori ponsel. Lantas bagaimana sikap konsumen terhadap produk high-tech ini?

Di Jepang, para pelanggan dan operator selular sudah tidak asing dengan ponsel yang dilengkapi fitur kamera digital. J-Phone, misalkan, sudah menawarkan layanan pengiriman ponsel kamera semacam sejak akhir 2000. Hingga kini, operator terbesar nomor tiga di Negeri Sakura tersebut sudah berhasil menjaring 5,1 juta pelanggan. Angka ini sudah tentu cukup menggiurkan bagi para operator selular di negeri lain.

Para operator selular terbesar AS, seperti AT&T Wireless dan Cingular Wireless, sudah mulai mencoba mendongkrak penguasaan pasar mereka dengan melalui text messaging yang direncanakan akan berujung pada layanan photo messaging seperti J-Phone. Namun, tidak seperti di Jepang, layanan ini tidak langsung disambut dengan tangan terbuka oleh pelanggan. Hal yang sama terjadi pula di Eropa.

Salah satu alasan kurang berhasilnya layanan pengiriman foto lewat ponsel adalah tingginya harga ponsel kamera saat ini. Di Eropa, misalkan, Nokia belum lama ini meluncurkan ponsel kamera andalannya, Nokia 7650, dengan harga awal AS$780.

?Jika ponsel kamera sudah cukup murah, picture messaging baru akan berkembang,? ucap analis Stuart Jeffrey dari Lehman Brothers, London.

Selain harga yang teramat tinggi, jaringan pendukung pun menjadi masalah. Di AS, para pelanggan selular belum mungkin saling bertukar foto melalui layanan picture messaging lintas operator. Meski demikian, analis Gartner Group masih melihat adanya potensi bagi layanan ini.

?Jika layanan picture messaging mudah digunakan dan ditawarkan dengan harga yang tepat, layanan ini akan sukses, namun pangsanya tak akan besar,? ujar Ben Wood dari Gartner Group.

Permalink Comments

Skandal WorldCom, Akhir Internet AS?July 18, 2002 at 00:00 · Filed under Artikel IT

Kejatuhan WorldCom Inc di AS terus mengundang gejolak. Betapa tidak, hampir setengah dari traffic internet di Negeri Paman Sam keluar-masuk “backbone” ISP-nya, bahkan 70 persen dari total e-mail yang dikirmkan dari AS. Semua pihak terbelalak dengan getasnya perusahaan internet negeri Adidaya. Inikah akhir era internet, atau sekadar bagian dari teori seleksi alam?

Sejumlah analis memperkirakan sebuah perusahaan telekomunikasi raksasa akan menghadapi masalah kebangkrutan, kendati CEO WorldCom John Sidgmore Selasa kemarin (2/7) menyatakan dirinya berharap perusahaannya tidak. Tapi wajar saja kekhawatiran itu datang, menyangkut para pelanggan internet WorldCom.

“Internetnya sendiri tahan goncangan,” ujar Joel Yaffe, analis Giga Information Group.

Paling tidak, fobia terhadap kelangsungan bisnis internet di AS tetap terjadi. Pihak Demokrat di Kongres meminta pemerintah untuk melakukan intervensi langsung untuk mencegah kehancuran WorldCom.

Perusahaan tersebut diberitakan melakukan penyimpangan pengeluaran senilai 4 miliar dolar. Akibat pengungkapkan skandal tersebut, saham WorldCom ambruk seketika, menyebabkan sejumlah perusahaan sekuritas dan Komisi Bursa Efek menimpakan tuduhan penipuan. Lantas, muncul sejuta pertanyaan dari sejumlah politikus dan investor.

WorldCom memang memberi efek domino bagi bisnis internet di AS. UUNet misalnya, adalah anak perusahaan yang menjadi “backbone” internet Amerika, yang memiliki koridor “superhighway” yang menghubungkan lalu-lintas internet antarkota dan benua menuju AS.

Sidgmore menyatakan, UUNet menampung lebih dari 50 persen traffic internet AS, termasuk 70 persen dari seluruh e-mail yang dikirim dari AS, serta setengah dari e-mail yang dikirim dunia. Prestasi ini setara dengan KPNQwest di Eropa, yang menangani lebih dari setengah traffic internet di sana.

Bahkan ribuan perusahaan di 100 negara saat ini bergantung pada akses internet WorldCom, termasuk Departmen Pertahanan dan Departemen Dalam Negeri AS sendiri. Kenyataan ini membuat kantor Keamanan Negara berani menjamin layanan Worldcom tidak akan terputus.

Senator Republiken asal Massachusetts Edward Markey yang menjadi anggota Komite Perdagangan dan Energi Senat (subkomite internet) meminta kepada ketua Komisi Komunikasi Federal Michael Powell untuk mengambil langkah yang dianggap perlu agar tidak terjadi pemutusan layanan.

“Pokoknya, tak ada alasan network UUNet akan bermasalah, bahkan dalam kondisi apapun,” jamin Sidgmore.

Sejumlah pakar memperkirakan pemerintah dan ratusan perusahaan tyerkait tak akan tega membiarkan UUNet mati. “Tak akan da yang rela membiarkannya mati melihat traffic yang begitu besar,” tukas analis Yankee Group, Courtney Quinn.

Permalink Comments

Revolusi Chip “Punch Card”, 1 Terabit per Inci PersegiJune 12, 2002 at 00:00 · Filed under Artikel IT

Sejumlah peneliti IBM tengah mempersiapkan revolusi penyimpanan data pada skala terabit di atas keping chip yang tidak lebih besar dari sebuah perangko. Mereka menyebutnya dengan chip Millipede, yang menggunakan prinsip “punch card”, atau jejak halus berukuran mikro untuk melambangkan satu bit data. Bagaimana cara kerjanya?

Peneliti IBM yang mengerjakan proyek ini berada di Zurich, Swiss. Mereka berhasil memanfaatkan “jejak” halus hasil indentasi pada permukaan chip yang bisa ditulis, dihapus, dan dibaca. Prototipe chip “1024 arms” telah mereka buat, ciptakan indentasi berukuran 40-nm menyilang. Chip tersebut memiliki kapasitas 200-GB per inci perseginya.

Nah, kini mereka sedang berjuang membikin piranti indentor “one arm” yang lebih kecil hingga bisa mencapai kapasitas hingga 1 terabit. Kapasitas sebesar itu setara dengan 10-15 kali kapasitas penyimpanan data chip yang ada saat ini. Satu terabit setara dengan informasi yang tersimpan dalam 200 CD.

“Teknolofi ini sangat potensial untuk aplikasi piranti bergerak semisal handheld,” ungkap Peter Vettinger, pimpro Millipede. Karena kapisitasnya yang besar misalnya, piranti saku bisa menyimpan banyak album musik dalam format file MP3.

Prinsip Kerja Prinsip kerja penyimpanan memori “punch” ini sesungguhnya tidak terlalu rumit. Permukaan dari chip tersebut harus terdiri dari beberapa lapisan plexiglass di atas lempeng silikon. Menulis atau “writing” data membutuhkan pemanasan pada ujung indentor hingga 400? celcius. Hanya dengan temperatur setinggi ini saja jejak mikro bisa muncul di permukaan plexiglass.

Untuk membaca chip, indentor yang juga berperan sebagai sensor itu panasnya harus dikurangi menjadi 300? celcius. Nah, perubahan temperatur inilah yang diterjemahkan sebagai data.

Sukses dengan prototipe pertama, dikabarkan tim akan mengembangkan prototipe keduanya, chip dengan “4096 arms” yang akan rampung tahun depan. Menurut para penelitinya, penemuan mereka masih bersifat riset dan masih jauh untuk diimplementasikan.

Permalink Comments

Komunikasi Wireless Masuki Era Chip TunggalJune 2, 2002 at 00:00 · Filed under Artikel IT

Sistem komunikasi bebas kabel bukan hal luar biasa. Kini, teknologinya sudah bisa diaplikasikan dalam sebuah keping chip. Terobosan ini gabungkan miniatur transmiter dan antena ke dalam chip seukuran ujung jari telunjuk. Pengiriman data antar chip kini tak lagi mengandalkan kabel!

Chip ini merupakan yang pertama kalinya menggabungkan seluruh sistem komunikasi tanpa kabel di atas permukaan semikonduktor berukuran kecil.

Sebagaimana dipaparkan dalam Journal of Solid State circuits. “Antenanya terpaksa diletakan searah di atas permukaan chip,” ujar Kenneth O, progfesor ilmu komputer dan elektro Universitas Florida, yang memimpin riset pembuatan chip wireless itu.

Untuk mewujudkan ambisinya, tim dari Universitas Florida ini tidak sendirian. Semiconductor Research Corp, adalah perusahaan yang berdiri di balik chip sakti itu.

Ikhwal chip tersebut, Kenneth tak mau bercerita panjang lebar. Pokoknya, sulit lah! Soalnya, untuk mentransmisikan data di atas lempengan silikon kecil ini sangat muskil. Radio wireless pada chip, paling tidak harus melewati untaian kawat renik. Oleh karenanya, dibutuhkan mikrofon mikro, detektor gerakan, dan piranti lainnya yang harus bisa diproduksi dengan murah pula.

Sebagai perbandingan, chip PC terhebat saat ini, Pentium 4 dapat beroperasi hingga 2-GHz. Intel dan AMD, bahkan tengah berlomba untuk mencapai clockspeed 20-GHz, atau setara dengan 20 miliar kalkulasi dalam sedetik. Lebih jauh, kecepatan 100-GHz diyakini ahli bisa dicapai. “Sayangnya, kecepatan ini sebanding dengan ukuran chip,” ungkap Kenneth. Padahal, chip wireless justru menghadapi kesulitasn dengan makin luasnya bidang chip.

Dari segi dimensi, chip rata-rata yang ada saat ini berukuran 1 cm persegi, yang diprediksikan akan naik jadi 2-3 cm persegi pada setiap sisinya. Semakin luas chip, semakin sulit untuk mengirimkan informasi secara simultan, karena jarak antara jutaan sirkuit jadi semakin panjang dan bervariasi. Akibatnya, bagi chip wireless ukuran yang luas justru menjadi masalah.

Untaian kawat renik yang jadi masalah bagi chip wireless berhasil didobrak oleh tim Kenneth. Pada artikel Solid State circuits May, Kenneth dan timnya melaporkan telah berhasil melakukan pengiriman clock signal dari transmiter mikro pada salah satu sisi chip berdiagonal 5,6 milimeter, menembus seluruh kawat renik tersebut. “Kami tidak menjalankan sinyal via kawat, ini benar-benar mengirimkannya secara broadcast,” tukasnya.

Pastinya, penemuan ini akan banyak gunanya bagi industri piranti elektronika, khususnya yang membutuhkan infrastruktur komunikasi wireless antarchip.